Selasa, 25 Juni 2024

Parenting ala Rasulullah

 

Ilustrasi anak (dok.pri)

Bagaimana cara mendidik anak yang terbaik. Umat Islam memiliki contoh dari Rasulullah. Kalau kita meneladani bagaimana cara Rasullullah, Muhammad SAW mengasuh anak-anaknya, insya Allah akan berlangsung dengan baik.

1. Usia 0-7 tahun

Rasulullah memerintahkan untuk memanjakan, mengasihi, menyayangi, dengan kasih sayang tiada batas, tanpa adanya perbedaan sikap.

Orang tua hendaknya Tidak mendidik dengan kekerasan seperti cara pukulan jika mereka melakukan sebuah kesalahan.  Tapi cukup dengan menegur dan memberi tahu mana yang benar dan mana yang salah.

2. Usia 7-14 tahun 

Tanamkan Kedisiplinan dan Tanggung Jawab. Perhatikan urusan akhirat anak, baru urusan dunia. "Apakah anak sudah sholat dan mengaji Alquran?"

Mengajarkan disiplin untuk melaksanakan Sholat tepat pada waktunya. Tanggung Jawab, ketika mereka berbuat sesuatu yang melanggar maka harus siap untuk tanggung jawab. seperti meninggalkan sholat 5 waktu, hendaknya orangtua memukul, walalupun pukulan itu ada syarat-syarat nya.

Mengajarkan Anak laki-laki dan perempuan, tidurnya dipisah.

3. Usia 15-21 tahun 

Orang tua sebaiknya mengadakan pendekatan yang bersifat perkawanan, diskusi, dan membicarakan tentang sesuatu yang membahayakan dan sesuatu yang bermanfaat.

4. Usia lebih dari 21 tahun 

Orang tua memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada anak-anak dengan memberikan kebebasan sehingga dapat menimbulkan percaya dalam dirinya dan mampu mengatasi masalah yang di hadapi.

Jumat, 21 Juni 2024

Perlindungan Anak Dari Kekerasan Seksual


Anak-anak (dok.pri)

 Anak-anak semakin sering menjadi korban kekerasan seksual. Karena itu sangat penting bagi orang tua untuk mencegah agar anak2 kita tidak jadi korban. 

Satu, terapkan kebijakan open door policy di rumah. Bahwa semua pintu kamar selalu dalam kadaan terbuka saat anak di dalam bersama dengan orang lain, sekalipun itu orang tua tua sendiri, keluarga sendiri, teman (terutama yg usianya LEBIH TUA), dll. Entah tujuannya mau main/belajar bersama, apapun alasannya, pintu harus terbuka.

 Kedua, ajari anak konsep safe persons (org yg aman, misalnya: orang tua, guru), bukan stranger dangers (org asing yg berbahaya). Karena data statistik jelas menemukan bahwa pelaku pelecehan/kekerasan seksual pada anak mayoritas dilakukan oleh orang yang dikenal, orang tua/keluarga dan teman.

Ketiga, ajarkan anak pendidikan seksual. Pendidikan seksual TIDAK SAMA dengan mengajarkan berhubungan badan!! Pendidikan seksual memberikan anak pengetahuan sentuhan boleh vs tidak boleh, jadi anak tahu kalau disentuh di bagian private itu salah. Pendidikan seksual termasuk mengajari anak tahu nama sebenarnya alat kelamin, karena anak bisa cerita tadi paman pegang vagi*a misalnya, dia tahu bahasa yg tepat, orang tua tidak menebak-nebak maksudnya.

 Istilah-istilah 'cute' tidak melindungi anak karena sering kali digunakan predator seksual sebagai  upaya grooming korbannya. Misalnya: paman mau sentuh bungamu (vagi*a) karena paman sayang sama kamu. Kamu keponakan paman paling baik dan manis.

Keempat, waspadai upaya grooming yaitu proses mendekati anak calon korban, biasa dengan iming2 sesuatu yang disukai anak. Ajari anak bahwa tidak boleh menyimpan rahasia. Surprise is good, secret is bad. Bermain rahasia-rahasiaan sering dipakai predator utk memanipulasi korbannya, membuat korban merasa special, sehingga kejadian pelecehan seringkali terlambat diketahui.